This site requires JavaScript. This message will only be visible if you have it disabled.

Batuan Sedimen


Batuan sedimen merupakan batuan endapan yang berasal dari bahan rombakan batuan asal atau material-material lepas dari proses-proses secara fisis, biologi ataupun secara kimiawi.
A.   Proses Terjadinya Batuan Sedimen
Secara umum, proses terjadinya batuan sedimen melalui tiga tahapan berikut:
1.    Batuan menjadi Sedimen - Pelapukan (disintegrasi dan dekomposisi) batuan beku, batuan metamorf ataupun batuan sedimen di permukaan.
2.    Sedimentasi Sedimen - Erosi, pengangkutan dan pengendapan sedimen.
3.    Sedimen menjadi Batuan - Diagenesa (kompaksi dan litifikasi) sedimen menjadi batuan sedimen 

a.    Pelapukan (Weathering)
Pelapukan adalah proses alterasi dan fragsinasi batuan dan material tanah karena proses fisis, kimia dan/atau biologi.
b.    Transportasi (Transportation)
Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat.
c.    Pengendapan (Deposition)
Pecahan-pecahan batuan yang mengalami transportasi tadi akan terakumulasi pada tempat tertentu pada waktu yang lama menjadi material sedimen.
d.    Litifikasi (Lithification)
Litifikasi adalah proses perubahan material sedimen menjadi batuan sedimen yang kompak. Misalnya, pasir mengalami litifikasi menjadi batu pasir.
e.    Kompaksi (Compaction)
Pada saat perlapisan di batuan sedimen terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan hingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi.
f.    Sementasi (Cementation)
Pada saat yang bersamaan pula, butir-butir yang ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit di antara butir-butir tersebut membuat butirannya menyatu membentuk batuan yang lebih keras.

B. Klasifikasi Batuan Sedimen
Batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu: Batuan Sedimen Klastik dan Batuan Sedimen Non Klastik.

1. Batuan Sedimen Klastik
Batuan sedimen klastik terbentuk sebagai akibat pengendapan kembalik rombakan batuan asal, baik batuan beku, batuan metamorf ataupun batuan sedimen yang lebih tua. Adapun fragmentasi batuan asal dimulai dari pelapukan, baik mekanik maupun kimiawi, lalu tererosi, tertransportasi dan terendapkan pada cekungan pengendapan lalu mengalami proses diagenesa yaitu proses perubahan-perubahan pada temperatur rendah yang meliputi kompaksi, sementasi, rekristalisasi, autigenesis dan metasomatisme. Sebagian besar batuan dari kelompok ini memiliki lebih dari satu mineral penyusun. Penggolongan batuan sedimen klastik, terdiri atas:
a. Golongan Karbonat
Batuan sedimen klastik karbonat adalah batuan sedimen klastik yang merupakan hasil rombakan dari batu gamping klastik maupun non klastik yang sudah ada sebelumnya seperti pada batuan sedimen klastik lainnya meskipun komposisi mineral penyusunnya keseluruhannya berupa mineral karbonat maka penamaannya juga didasarkan pada ukuran butiran material penyusunnya.
1) Kalsilutit
Batuan gamping klastik yang ukuran butirnya kurang dari 1 per 16 mm atau identik dengan batu lanau maupun batu lempung.
2) Kalkarenit
Merupakan batuan gamping klasik yang ukuran butiran material penyusunnya lebih dari 1 per 16 mm atau bisa dikatakan identik dengan batu pasir.
3) Kalsirudit
Kalsirudit merupakan batu gamping klastik yang ukuran butir material penyusunnya lebih dari 2 mm atau identik dengan konglomerat ataupun breksi.
b. Golongan Silika
1) Breksi
Memiliki ukuran butir lebih dari 2 mm dengan fragmen yang menyudut, umumnya terdiri dari fragmen yang tertanam dalam masa dasar yang lebih halus dan tersemenkan.
2) Konglomerat
Berukuran butir lebih dari 2 mm dengan fragmen yang membulat dan pada umumnya terdiri dari serangkaian batuan hasil rombakan yang tertanam dalam masa dasar yang lebih halus dan tersemenkan.
3) Batu pasir
Merupakan batuan enapan yang terutama teriri dari mineral atau butiran batuan berukuran pasir (1/16 mm - 2 mm). Sebagian besar batu pasir terbentuk oleh kuarsa atau felspar.
4) Batu Lanau
Berukuran butir antara 1/256 - 1/16 mm, perbedaan dengan batu pasir atau lempung hanya besar butirnya.
5) Batu Lempung
Berukuran butir lebih kecil dari 1/256 mm. Umumnya terdiri dari mineral lempung.

2. Batuan Sedimen Non Klastik
Batuan sedimen non klastik adalah batuan sedimen yang terbentuk oleh proses kimiawi atau aktivitas organisme atau gabungan keduanya. Proses pembentukannya melalui presipitasi langsung dari larutan atau air yang membentuk batuan sedimen. Penggolongan batuan sedimen non klastik, sebagai berikut:
a. Golongan Karbonat
Secara umum dinamakan batu gamping karena komposisi utamanya adalah mineral kalsit dan juga termasuk pada kelompok ini adalah dolomit.
b. Golongan Evaporit
Umumnya batuan ini terdiri dari mineral dan merupakan nama dari batuan tersebut misalnya: Anhidrit, Gypsum dan Halit.
c. Golongan Silika
Terdri dari batuan yang diendapkan pada lingkungan laut dalam yang bersifat kimiawi dan kadang-kadang juga berasosiasi dengan organisme seperti halnya radiolaria dan diatomea. Contoh batuan ini adalah: Rijang dan Radiolarit.
d. Golongan Batubara
Batubara adalah batuan sedimen organik dengan unsur-unsur utama terdiri atas hidrokarbon dan oksigen yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan.

C. Komposisi Mineral Batuan Sedimen
Komposisi mineral batuan sedimen klastik dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Fragmen
Fragmen adalah butiran pada batuan yang ukurannya paling besar, biasanya berupa mineral, fosil cangkang atau zat organik lain.
2. Matrik
Matrik adalah butiran pada batuan yang ukurannya lebih kecil dari fragmen dan terletak sebagai massa dasar.
3. Semen
Semen bukan butir tetapi material pengisi rongga antar butir dan bahan pengikat antara fragmen dan matriks.